© Copyright 2010 :: Rumah Pena :: Niken Larasati ::
Welcome to :: Rumah Pena :: Niken Larasati ::

Hewan Peliharaanku

Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati


»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati

»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
PROLOG
Aku kembali ke kampung kelahiranku. Semua telah berubah. Aku tertegun melihat deretan kios sembakau, buah-buahan, dan toko buku. Di jalan yang kini sudah beraspal, tak lagi seperti dulu yang penuh kerikil, kini melintas motor dengan cepat.
O, pohon beringin berbatang raksasa itu ternyata masih ada dan berdiri kokoh. Di bawah pohon itulah dua belas tahun silam terdapat sebuah warung kopi. Warung kopi yang terbakar habis tanpa sisa. Sepanjang ingatanku, pemandangan sekilas seketika membawaku kembali ke waktu yang berjalan mundur, melewati kenangan di masa kecilku.
»»  read more
Niken Larasati

Kafe ini sepi menjelang senja. Aku menatap ke luar jendela dari tempatku duduk sendiri seraya menyeruput secangkir kopi hangat. Berbatang-batang rokok tak lepas dari hisapanku. Lengkingan hisapan kuat sebagai pelepas jemu.
Aku mengedar pandang berkeliling. Deretan rumah tua berjejer di sepanjang jalan. Ada pula galeri lukisan, gedung bioskop, dan tempat-tempat perbelanjaan. Truk kemudian memelan melewati jalanan dengan simpang yang semrawut. Suara orang ramai seperti berebut masuk kereta. Dan teriakan para pengemis, penjual asongan, serta beberapa waria pecah di pinggir jalan. Mereka yang berusaha melarikan diri saling berkejaran dengan oknum satpol PP.
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati

»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati



Gerakan Menulis Puisi dan Sajak Untuk Gaza 10.000 Buku

Apa terlintas dalam fikiran kalian jika mendengar Gaza..?

Apa yang anda rasakan ketika melihat tentang Gaza..?

Bertahun-tahun Gaza di bombardir oleh israel dan amerika setiap tahun hampir menyumbang dana sekitar 1 Milyar Dolar untuk proyek nuklir dan persenjataan mereka, namun Palestina (Gaza) mereka tidak pernah meminta belas kasihan kepada Negara kawasan liga arab, bumi palestina adalah bumi nya para nabi bagi umat muslim, sehingga jihad adalah impian mereka. Di kawasan Negara lain baik muslim dan non muslim yang menyukai damai meminta agar Israel menghentikan serangan terhadap Gaza, di dasari ini lah bagi rekan-rekan di Indonesia dan Negara lain yang tidak bisa menjadi relawan ataupun membantu rakyat gaza, kami mengajak rekan-rekan untuk menulis puisi untuk mereka.

Syarat dan Ketentuan

Umum siapa saja boleh ikut WNI, WNA dsb. 

Puisi boleh berbahasa Indonesia, Inggris dan Arab Sesuai EYD

Tema tulisan tentang Gaza, Suriah dsb.

Puisi Maksimal 2 halaman A4 dan peserta hanya boleh mengirimkan 2 puisi terbaiknya

Peserta  wajib mentrasfer dana Rp. 100 Ribu untuk membantu biaya penerbitan dan bantuan ke gaza Bank Mandiri 114-00-0757913-2

Hasil tranferan dari kalian harap di fhoto dan kirimkan beserta naskah puisi ke email

Format subject mail adalah Jenis Naskah - Judul Naskah - Nama Pengirim - Akun Twitter/FB/Blog. send ke :  peduli_gaza@yahoo.com

Peserta akan mendapatkan 2 bukti buku dan dikirim ke alamat masing-masing

Semua naskah yang masuk akan di bukukan bersama

Target cetak adalah 10.000 buku

08982656669 / 085768 373737

Hasil dari seluruh penjualan dan dana yang Masuk akan di salurkan langsung ke Gaza, jika meungkinkan buku akan di cetak dalam 3 bahasa berbeda sehingga Negara bias di pasarkan di Negara luar.

Untuk melancarkan kegiatan 10.000 buku maka dengan sangat, kami mengharapkan uluran tangan teman-teman, baik yang ikut dalam proyek nulis atau sekedar menjadi donator dan sponsor, semoga keberkahan, amal dan niat baik kita semua di terima Tuhan. Aamiin

Jangan lupa di sebarkan, bantu retwet, melalui akun-akun jejaring sosialmu. kami tunggu naskah terbaikmu juga uluran donatur dari kalian.

Follow kami di twitter. @WritingForGaza @PeduliGaza

di dukung oleh @NBCLampung dan penerbit @PustakaPuitika

Sumber: peduligaza.tumblr.com
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati

»»  read more
Niken Larasati

»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati

»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati

»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati

»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati

»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
»»  read more
Niken Larasati
Bila selama ini kamu selalu berpikir bahwa menulis adalah perkerjaan yang membosankan, mungkin sebaiknya kamu mulai berpikir salah tentang asumsimu itu. Karena menulis ternyata bisa menjadi sumber penghasilan yang mungkin membuat kalian iri setelah membaca tulisan ini.

Selama ini, mungkin kamu selalu membenci dan meremehkan pe
lajaran bahasa Indonesia, karena sesungguhnya bahasa ibu kita itu, telah menjadi inspirasi dan karya dari penulis-penulis Indonesia yang menjadikan mereka kaya, terkenal dan popular. Ketika kita berusaha menjauhi bahasa kita sendiri dengan pelajaran bahasa inggris atau mandarin. Mereka membuktikan pikiran dan tulisan mereka telah membawa mereka dalam kehidupan yang nyaman.

Berikut ini adalah 8 penulis terkaya berdasarkan survei beberapa majalah kampus, ekonomi, gramedia, kompas dan beberapa sumber terpercaya:

1. Andrea Hirata
Andrea Hirata adalah penulis sukses best seller Laskar Pelangi dan beberapa buku lainnya seperti Sang Pemimpi, Maryamah Karpov. Sumber menyebutkan, Andrea menjual lebih dari 600.000 copy exp bukunya dan dengan total keuntungan lebih dari Rp 3,6 miliar saja dalam satu judul Laskar Pelangi. Bila ditambah dengan beberapa bukunya yang mencetak best seller, mungkin bisa kalian bayangkan sendiri berapa penghasilan pria asal Belitung tersebut. Bonus tambahannya ia menjual karyanya dengan harga 25 juta untuk difilmkan. Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.
 
2. Habiburrahman El Shirazy
Hampir semua karya-karya Habiburrahman yang berupa novel maupun mini novel best seller. Sebut saja Ayat-Ayat Cinta yang puluhan kali dicetak ulang lalu difilmkan dan ditonton oleh 3,5 juta orang. Novel yang lain Ketika Cinta Bertasbih menyamai Ayat-ayat Cinta. Novel terbarunya yang bersetting Rusia, Bumi Cinta juga mulai mengikuti novel-novel sebelumnya yang best seller. Bukunya AAC terjual lebih dari 400.000 exp menempatkan pria lulusan mesir ini sebagai penulis terkaya kedua di Indonesia dengan Rp 2,4 Milliar. Bonus tambahan yang ia dapatkan dari novelnya yang diangkat ke layar lebar adalah 150 juta dari Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih dan Migrab Cinta.

3. Mira W.
Penulis yang paling produktif dalam 20 tahun terakhir dengan buku-buku fenonemalnya seperti Cinta Sepanjang Amazon, menempatkan penulis yang juga dokter umum ini berada di peringkat ketiga penulis terkaya di Indonesia. Mira W. melahirkan lebih dari 20 novel best seller yang diperkirakan memberikan keuntungan lebih dari Rp 2 milliar dari bukunya tersebut. Ia juga aktif menjual karyanya ke film dan layar lebar. Bila perbuku ia mendapatkan 25 juta, silakan hitung berapa uang yang ia hasilkan dari hak ciptanya tersebut.

4. Dewi “Dee” Lestari
Dee adalah salah satu penulis yang cukup fenomenal. Kehadiran Supernova-nya yang terkesan “rumit” banyak digemari penikmat sastra di Indonesia. Supernova Putri, Ksatria dan Bintang Jatuh, Supernova Petir dan Supernova Akar mampu menyaingi novel-novel teenlit dan Chiklit yang marak kala itu. Perahu Kertas adalah novel terbaru Dee, sebelumnya Dee mengeluarkan kumpulan tulisannya dalam Rectoverso. Di Rectoverso, Dee mampu membuktikan bahwa tulisan yang berkualitas dapat juga diapresiasi dengan baik. Rectoverso juga dikawal dengan album solo Dee bertajuk sama. Semua lagu di album Rectoverso merupakan gambaran setiap tulisan di bukunya. Lirik maupun tulisan di buku sama-sama puitis. Ia konon menghasilkan lebih dari 1,5 miliar rupiah dari seluruh novelnya.

5. Agnes Davonar
Ia tidak memiliki latar belakang seni ataupun sastra, tapi memulai tulisan-tulisan ringannya lewat blog pribadinya. Tanpa ia sadari, tulisan-tulisannya mampu membius pembaca online hingga akhirnya ia menjelma menjadi penulis novel fenomenal dengan beberapa kontroversi yang menghampanya. Gaby, karakter ciptaannya menjadi kasus terumit di Indonesia yang melibatkan perebutan lagu misterius. Berbekal prestasi blogger internasional dan sejumlah penghargaan nasional, membuat nama dua bersaudara ini melambung menjadi penulis termahal di Indonesia. Buku Surat Kecil Untuk Tuhan karya mereka terjual lebih dari 200.000 exp atau menghasilkan 700 Juta Rupiah. Ia masih memiliki 7 novel lain yang mencetak best seller yang dijual di luar negeri. Menurut sumber film Indonesia, Agnes bersaudara mendapatkan lebih dari 500 juta Rupiah dari hak cipta novelnya yang semuanya telah menjadi perebutan produsen-produsen kakap nasional. Ia mendapatkan akusisi blognya dari Garudafood lewat produk chocolatosnya dengan nilai sponsorship 500 juta pertahun. Sampai saat ini, penulis ini masih dikenal misterius karena tertutup dan jarang sekali tampil walau dibayar mahal sekalipun dalam sebuah seminar.
6. Raditya Dika
Sama halnya dengan Agnes Davonar, Raditya Dika memulai kariernya sebagai seorang blogger dan berhasil menempatkan dirinya sebagai penulis terkaya ke 6 di Indonesia lewat novel Kambing Jantan-nya yang fenomenal. Walau film adapatasi novelnya gagal di pasaran, tapi buku-bukunya tetap menjadi terfavorit dan mendapatkan lebih dari 500 juta keuntungan pribadi yang membuat pria yang bekas mantan pacar Sherina ini sebagai penulis muda beruntung. Ia juga menjadi artis yang sukses dengan beberapa iklan dan tampil dalam acara televisi.

7. Agnes Jessica
Dia adalah seorang guru matimatika yang kemudian berhenti mengajar dan memutuskan karielnya menjadi seorang penulis. Ternyata pilihanya tidak salah, ia menjadi penulis yang aktif hingga nyaris menerbitkan 1 bukunya setiap bulan, terkenal akan karyanya Sepatu Kaca, menempatkan dirinya dengan pendapatan lebih dari 400 juta keuntungan pribadi dan belum termasuk hak cipta film untuk karyanya.

8. Asma Nadia
Kiprah wanita yang satu ini memang luar biasa. Puluhan bukunya baik yang berupa novel, kumpulan cerpen dan kumpulan essai telah terbit. Dan hampir semuanya best seller. Tulisan-tulisan Asma Nadia banyak ditemukan di majalah hingga koran. Salah satu bukunya yang best seller adalah Catatan Hati Seorang Isteri yang diterbitkan Lingkar Pena Publishing dan Kumcer Emak Ingin Naik Haji. Tulisan-tulisan yang dibuat oleh Asma tentu saja banyak memberikan inspirasi dan motivasi. Nilai-nilai yang syar’I dapat ditemukan di setiap tulisannya. Hebatnya lagi, Asma mampu mengemasnya dengan cantik bahkan meremaja sekali. Sehingga banyak sekali remaja yang menyukai tulisan-tulisannya. Konon ibu muda ini mengumpulkan lebih dari 300 juta dari karyanya yang beredar dan beberapa hak cipta film untuk novelnya.


»»  read more
Niken Larasati
Di bawah ini adalah daftar penolakan dari novel-novel oleh penerbit yang akhirnya menjadi novel-novel terlaris:
1. Dune karya Frank Herbert – 13 penolakan
2.
Harry Potter and the Philosopher’s Stone karya J.K Rowling– 14 penolakan
3.
Auntie Mame karya Patrick Dennis – 17 penolakan
4. Jonathan Livingston Seagull – 18 penolakan
5. A Wrinkle in Time karya Madeline L’Engle – 29 penolakan
6. Carrie karya Stephen King – lebih dari 30 penolakan
7. Gone W
ith the Wind karya Margaret Mitchell – 38 penolakan
8. A Time to Kill karya John Grisham – 45 penolakan 

Pengalaman pribadi para penulis top dengan penolakan penerbit.
Di bawah ini adalah penolakan yang pernah dialami oleh para penulis-penulis hebat sebelum karya pertama mereka terpublikasikan:
1. Louis L’Amour, penulis lebih dari 100 novel – mendapatkan lebih dari 300 penolakan sebelum mempublikasikan buku pertamanya.
2. John Creasy, penulis 564 novel misteri – 743 penolakan sebelum mempublikasikan buku pertamanya.
3. Ray Bradbury, penulis lebih dari 100 novel dan cerita science fiction – mendapatkan sekitar 800 penolakan sebelum menjual cerita pertamananya.
4. The Tale of Peter Rabbit karya Beatrix Potter – ditolak oleh semua penerbit sehingga dia memutuskan untuk menerbitkan sendiri karyanya.
Ferry Herlambang

Berikut kisah sukses seorang penulis yang novelnya pernah ditolak penerbit:

Riwayat Hidup J.K Rowling


Siapa yang tak mengenal tokoh Harry Potter? Tokoh penyihir muda rekaan yang telah berhasil "menyihir" dunia hingga buku dan kisahnya mampu menghasilkan miliaran dolar Amerika bagi pengarangnya, Joanne Kathleen Rowling atau J.K Rowling.
Tapi, siapa yang menyangka, ibu tiga anak ini memulai semuanya dari nol. Bahkan pada awal menulis kisah Harry Potter, ia sempat mendapat santunan dari pemerintah Inggris, karena masuk dalam kategori sebagai orang miskin yang layak mendapat santunan.
Terlahir dari pasangan Peter dan Anne pada 31 Juli 1965, J.K Rowling dilahirkan di Chipping Sodbury, Gloucestershine, England pada tanggal 31 Juli 1965. Rowling mulai menulis cerita sejak berusia 5 tahun. Bahkan, di usianya yang baru menginjak enam tahun, ia sudah menelurkan kisah berjudul “Rabbit”. Dan, uniknya, saat meminta pendapat ibunya, spontan ia mengatakan mengapa buku itu tidak diterbitkan saja?
Kebiasaan menulis Rowling terus berlanjut. Namun, tak hanya itu. Ia pun dikenal rajin menceritakan berbagai kisah rekaannya kepada semua teman-temannya. Kadang, beberapa rekan malah mau menjadi tokoh memerankan kisah yang dibuatnya. Mungkin, hal-hal itulah yang mampu mengasah daya imajinasi Rowling hingga dewasa.
Bersama orang tua dan adiknya, Rowling pindah rumah ke daerah Winterbourne. Di tempat itu ia mempunyai tetangga yang bernama Potter. Saat Rowling berusia 9 tahun, ia dan keluarganya pindah lagi ke Tutshill. Di Tutshill, Rowling mulai bersekolah di sebuah sekolah dasar dan berlanjut ke Wyedean Comprehensive. Setelah lulus, Rowling melanjutkan ke Exeter University. Di Exeter ini Rowling belajar bahasa Perancis. Pada tahun 1990 Rowling lulus dari Exeter University. Saat berumur 26 tahun ia pindah ke Portugal menjadi guru bahasa Inggris.
Rowling menikah dengan Jorge Arantes seorang wartawan yang berasal dari Portugis. Pada tahun 1993 anaknya yang bernama Jessica lahir. Namun tidak lama setelah anaknya lahir, Rowling bercerai dengan suaminya dan pindah ke Edinburg.
Sebenarnya, himpitan kemiskinan lah yang justru telah mengantarnya mampu menyelesaikan kisah Harry Potter pertamanya. Saat itu, ia mendapat ide menulis dalam sebuah perjalanan di kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990. Dari perjalanan itu, entah mengapa tiba-tiba ia mendapat ide untuk memulai kisah Harry Potter yang diberinya judul Philosopher’s Stone.

Tentu, naskah itu tak langsung jadi. Selepas perceraian dari suami pertamanya, ia yang terpaksa harus hidup pas-pasan kemudian makin terpacu untuk menyelesaikan naskah itu. Akhirnya, pada 1995 ia berhasil menyelesaikan buku pertamanya. Tapi, karena sangat miskin, ia terpaksa mengetik ulang naskah hingga beberapa kopi dengan mesin tik tua manual yang murah, hanya karena tak mampu membayar biaya fotokopi. “Anda mungkin tak pernah tahu, betapa menyedihkannya hidup tanpa uang sama sekali. Kecuali jika Anda sudah pernah mengalaminya, seperti yang aku alami,” katanya.

Atas dorongan untuk merubah hidup, maka ia pun lantas berusaha sekuat tenaga untuk menjual kisah tersebut. Tapi, layaknya penulis pemula lain, naskah itu pun mengalami penolakan berkali-kali dari berbagai penerbit. Beruntung, dari seorang agen bernama Christopher, Bloomsbury mau menerbitkan kisah tersebut.

Dan, ajaib! Layaknya sihir, buku yang sempat ditolak oleh berbagai penerbit itu justru laku sangat keras. Bahkan, ia mendapat berbagai penghargaan atas karya tersebut. Maka, kisah hidupnya pun berubah total. Dari orang yang sangat miskin, hanya dalam waktu kurang dari delapan tahun, ia mampu hidup berkelimpahan dari karya Harry Potter-nya itu.
Pada tahun 1997 Harry Potter and The Philosopher’s Stone sukses besar di Inggris. Edisi pertamanya di Amerika pada tahun 1998 diterbitkan oleh Arthur A. Levine Book yang kemudian berganti judul menjadi Harry Potter and The Sorcerer’s Stone. Harry Potter menjadi buku yang paling banyak dicetak di Amerika. Buku yang bercerita tentang kehidupan Harry Potter sebagai seorang penyihir cilik serta kehidupan di sekolah sihir Hogwarts ini jumlah cetakannya mencapai 80 juta buku dan menjadi topik utama di surat kabar Amerika, seperti The New York Times, USA Today dan Wall Street Journal. Pada tahun 1997 Harry Potter and The Philosopher’s Stone mendapatkan penghargaan The British Book Awards sebagai Children Book of The Year dan The Smarties Prize.
Kesuksesan buku pertamanya membuat Rowling bersemangat untuk melanjutkan seri ke-2 dari Harry Potter. Pada bulan Juli 1998 Harry Potter and The Chamber of Secret terbit di Inggris dan di bulan Juni 1999 terbit di Amerika. Buku ke-2 juga sukses dipasaran yang kemudian berlanjut seri ke-3 yang berjudul Harry Potter and The Prisoner of Azkaban yang terbit pada bulan Juli dan September 1999 di Inggris dan Amerika. Pada musim panas tahun 2000 sekitar $480 juta dalam 3 tahun diraih Rowling dengan jumlah 35 juta copy buku yang dicetak dalam 35 bahasa. Ketiga seri Harry Potter berhasil melambungkan nama J.K Rowling di Inggris dan Amerika sekaligus menjadikan ke-3 buku tersebut menjadi best seller.
Seri ke-4 Harry Potter terbit pada bulan Juli 2000 dengan judul Harry Potter and The Goblet of Fire. Cetakan pertama berjumlah 5,3 juta copy terjual 1,8 juta. Berikutnya terbit seri ke-5 yang berjudul Harry Potter and The Order of The Phoenix pada bulan Juni 2003 dan seri ke-6 yang berjudul Harry Potter and The Half Blood Prince berjual 6,9 juta copy di Amerika dalam 24 jam saat penjualan hari pertamanya.
Sebelum terbit pada bulan Juli 2007 seri ke-7 dan merupakan seri terakhir dari Harry Potter yang berjudul Harry Potter and The Deathly Hallow telah banyak dipesan penggemarnya melalui toko buku Barnes & Nobles and Border’s serta melalui website amazon.com. Rowling saat ini menjadi wanita terkaya ke-13 di Inggris.
Film pertama Harry Potter and The Sorcerer’s Stone disutradarai oleh Chris Columbus pada bulan November 2001 berhasil meraup keuntungan $93,5 juta dan menjadi rekor box office mengalahkan film sebelumnya, yaitu The Lost World: Jurassic Park pada tahun 1999 yang mendapat keuntungan $20 juta. Film ke-2 dan 3 dirilis pada bulan November 2002 dan Juni 2004 juga berhasil memecahkan rekor box office. Harry Potter and The Goblet of Fire yang disurtadarai Mike Newell rilis pada tahun 2005. film ke-5 yang berjudul Harry Potter and The Order of The Phoenix rilis bulan Juli 2007 yang menempatkan Michael Goldenberg sebagai penulis skenario menggantikan Steve Kloves yang telah menulis skenario untuk ke-4 film seri sebelumnya.
Pada tanggal 26 Desember 2001 J.K Rowling menikah lagi dengan seorang dokter anasthetis yang bernama Dr. Neil Murray dan tinggal di Scotland. Pada tahun 2003 anak ke-2 Rowling lahir dan diberi nama David. Pada tahun 2005 lahir anak ke-3 yang bernama Mackenzie.

Namun, Rowling tak pernah lupa pada akarnya. Keuntungan dari penjualan buku-bukunya, ia sumbangkan pada UK Comic Relief Charity. Ia pun tak lupa menyisihkan sebagian kekayaannya untuk membantu sejumlah yayasan sosial, khususnya lembaga yang banyak melakukan penelitian tentang penyakit multiple sclerosis, sebuah penyakit yang sempat merenggut nyawa ibunya pada tahun 1990.

Tanpa tekad yang kuat, adanya bakat pun akan menjadi sia-sia belaka. JK Rowling membuktikannya. Meski terlahir dengan kecerdasan dan bakat menulis, ia ternyata harus menghadapi berbagai penolakan atas karyanya. Namun, dengan tekad untuk memperbaiki kualitas hidup, ia pun akhirnya mampu memetik hasil nyata perjuangannya. Dan, kini ia pun menunjukkan kepedulian nyata, bahwa apa yang dicapainya, juga bisa memberi sesuatu pada sesama, karena itulah arti kesuksesan yang sesungguhnya.

Referensi:
- http://andriewongso.com/awartikel-495-Success_Story-Jk_Rowling
- http://id.wikipedia.org/wiki/J.K._Rowling

Pesan: jangan pernah takut dengan sebuah kegagalan. Karena kegagalan adalah ujung tombak dari sebuah kesuksesan. Justru, sebuah kegagalan itu sangatlah penting. Karena jika kita tidak pernah merasakan kegagalan, maka kita tidak akan pernah tahu kekurangan kita dan selamanya kita tidak akan bisa maju untuk menjadi lebih baik. Bersyukurlah jika kau telah mengalami kegagalan! Namun, jangan jadikan sebuah kegagalan itu sebagai pembunuh semangat. Jadi intinya, belajarlah dari kegagalan.



»»  read more
Niken Larasati
Isaac Newton

















Salah satu ilmuwan terkemuka dunia, ahli matematika Inggris terbesar untuk zamannya. Terkenal dengan karyanya pada optik dan teori gravitasi. Padahal di masa kecilnya, ketika sekolah dasar, nilainya sangat buruk sampai gurunya bingung, bagaimana cara memperbaikinya.

Albert Einstein
Dialah ilmuwan terkenal abad 20 yang terkenal dengan teori relativitasnya. Dianggap sebagai ilmuwan terpenting abad 20, penerima 2 hadiah Nobel untuk Fisika. Di masa kecilnya, ia adalah seorang anak yang terlambat berbicara dan juga mengidap Autisme. Ia juga suka lalai dengan pelajaran. Bahkan orangtuanya mengira Einstein cacat mental. Melihat kondisi itu orang tuanya sangat prihatin sehingga ia berkonsultasi dengan dokter. Karena kemampuan berbicaranya yang lambat membuatnya pernah gagal di sekolah dan kepala sekolah menyarankan agar ia keluar dari sekolah. Tentu saja ia memberontak kepada sekolah yang mengusirnya dan menganggapnya sebagai anak yang sangat bodoh.

Bahkan nilainya di sekolah dasar sangat buruk sampai gurunya menyuruhnya berhenti sekolah dan berkata kepada Einstein, “Kamu tak akan bisa belajar apa saja.”
»»  read more
Niken Larasati
Selama ini, lebih dikenal ada dua sistem pembayaran yang diterapkan oleh penerbit, baik itu buku fiksi maupun non fiksi. Dan rata-rata penghasilan penulis buku tergantung seberapa tenar penerbit yang akan menerbitkan karya tersebut, juga seberapa besar nama penulis.

Nah, berikut adalah penjelasan mengenai dua sistem pembayaran tersebut.

Royalti

Pada sistem ini, penulis akan menerima pembayaran royalti secara rutin pada setiap periode pembayaran. Periode pembayaran cukup bervariasi, dari yang per-triwulan (tiga bulanan), per kwartal (empat bulanan), dan per semester (enam bulanan, biasanya bulan Februari dan Agustus).
 
Setiap penerbit memiliki standar royalti masing-masing. Biasanya penerbit memberi royalti 10% - 15% dari harga resmi setiap buku. Tapi ada pula penerbit mematok royalti dari harga netto. Besarannya tergantung masing-masing penerbit. Misalnya penerbit mematok 12,5 % dari harga netto. Sedangkan harga netto adalah 50 % (atau menurut kesepakatan) dari harga jual tertinggi. Selain royalti, biasanya penulis juga berhak mendapatkan buku pada cetakan pertama dan cetakan berikutnya.

Selain itu, penulis boleh mengajukan negosiasi royalti (permintaan kenaikan prosentasi royalti) apabila memiliki nilai tawar (bargaining power), seperti tema yag ditulis belum pernah ada sebelumnya, berpeluang menciptakan trend baru, dll.

Contoh perhitungan royalti dari suatu penerbit :
Jika buku dicetak sebanyak 3.000 eksemplar dengan harga jual Rp. 40.000,- dan prosentase royalti adalah 10%. Setelah 6 bulan ternyata laku 2.000 eksemplar, maka perhitungannya adalah sebagai berikut :
2.000 eks x Rp. 40.000,- = Rp. 80.000.000,- x 10% = Rp. 8.000.000,-

Besar sedikitnya royalti yang diperoleh memang relatif. Penulis mendapatkan royalti secara teratur. Apabila buku dicetak ulang hingga berkali-kali, maka penulis akan terus mendapatkan royalti. Dan apabila buku telah habis dan tidak dicetak lagi, maka penulis sudah tidak mendapatkan apa-apa lagi.
Namun royalti yang diterima harus dipotong PPh sebesar 15% (untuk yang memiliki NPWP) atau 30% (untuk yang tidak memiliki NPWP). Setelah didapat nilai royalti dari perhitungan di atas, maka royalty sebenarnya yang diterima penulis setelah dikurangi PPh seperti berikut :
Jumlah royalti Rp. 8.000.000,-
Pemotongan PPh (Rp. 8.000.000,- x 15%) Rp. 1.200.000,- (-)




Royalti yang diterima Rp. 6.800.000,-

Namun perolehan yang didapat dari per buku kurang maksimal. Karena biasanya penerbit memberi diskon kepada toko buku sebesar 30% - 50%, sehingga royalti penulis pun bisa dihitung. Misalnya buku didiskon 50% dari harga jual Rp. 40.000,-, itu berarti harga jual buku sama halnya Rp. 20.000,- sehingga 10% dari Rp. 20.000,- adalah Rp. 2.000,-.

Selain royalti, biasanya penulis juga berhak mendapatkan buku pada cetakan pertama dan cetakan berikutnya.
 Keuntungan
ü Apabila buku penulis laris manis di pasaran, bahkan menjadi best seller, maka royalti kita pun akan terus bertambah.
Kerugian
ü Penulis harus menunggu lama setiap akhir periode untuk mendapatkan royalti.
ü Apabila buku tidak laku, maka pendapatan penulis pun sedikit.

Jual Putus

Selain sistem royalti, beberapa penerbit juga ada yang menerapkan system jual putus (flat). Jual putus artinya naskah penulis dibeli putus dan tidak akan mendapatkan pembayaran apapun lagi dalam tempo tertentu. Standar per buku berkisar antara Rp. 6.000.000,- s.d Rp. 20.000.000,-, tergantung kebijakan penerbit. Tapi apabila penulis memiliki nilai tawar (barganing power) tersendiri, seperti yang sudah dijelaskan pada sistem royalti, maka itu bisa menjadi nilai lebih untuk mengajukan permintaan kenaikan harga.

Pada sistem ini, penulis hanya menerima pembayaran di muka ketika kesepakatan sudah disetujui dan kontrak jual beli sudah ditandatangani. Setelah itu penulis tidak akan menerima pembayaran lagi dan tidak ada hubungan lagi dengan penerbit. Jadi, penulis menerima langsung misal Rp. 10.000.000,- sejak naskah diterima oleh penerbit. Namun, jarang ada penerbit yang menggunakan sistem ini. Karena sistem ini cenderung tidak adil.
Keuntungan
ü Penulis hanya menerima satu kali pembayaran tanpa perlu menunggu periode pembayaran.
ü Penulis tidak perlu khawatir jika buku tidak laku, karena sudah dibayar dimuka.
Kerugian
ü Jika buku ternyata laris manis di pasaran dan bahkan best seller, maka penulis tidak berhak menerima apapun keuntungan dari penerbit.
ü Setiap kali terjadi cetak ulang, penulis hanya akan mendapatkan bukti cetak ulang saja.
»»  read more
Niken Larasati

Bagian awal ini disebut pra-produksi. Biasanya masing-masing penerbit sudah menjelaskan tentang syarat-syarat dan ketentuan pengiriman naskah. Hanya saja bagi penulis yang sangat pemula sering kebingungan dan bertanya kesana-kemari mengenai cara pengiriman naskah ke penerbit.

Anda seorang penulis atau calon penulis? Apakah Anda sedang mencoba menawarkan atau mengirim naskah ke penerbit untuk diterbitkan? Nah kalau iya, yuk intip penjelasannya di bawah ini.

1. Ketik naskahmu
Bagi penulis yang sangat pemula, alangkah baiknya mengetik naskah pakai komputer biar lebih rapi dan enak dibaca, jangan ditulis tangan. Kecuali bagi penulis berkelas, meski mereka nulis pakai tulisan tangan alias coret-coretan, naskah mereka pun bakal dilirik penerbit.

2. Pakailah format penulisan standar
Secara umum, format standar penulisan naskah menggunakan font Time New Rowman, ukuran 12, spasi 1,5 atau double, ukuran kertas A4 atau letter (kwarto), panjang halaman antara 100-200 halaman, dan margin menyesuaikan dengan default. Hindari jenis-jenis huruf tegak bersambung, yang lucu-lucu, atau kebanyakan hiasan.

3. Beri nomor halaman di naskahmu
Selain memudahkan editor, ini juga untuk berguna bagimu untuk memastikan tidak ada halaman yang terlewat nanti kalau sudah dicetak.

4. Cetak/ print naskahmu
Naskah dalam bentuk cetakan (print out) lebih diutamakan. Bagaimana jika mengirim lewat email? Saya tidak menyarankan. Dengan kata lain, ada sebagian penerbit yang membolehkan pengiriman lewat email. Tapi kebanyakan penerbit tidak menerima naskah lewat email. Bagaimana pun juga lebih enak membaca naskah print out daripada membaca di layar komputer. Yang pasti editor lebih santai membacanya.

5. Sertakan sinopsis naskahmu
Buatlah sinopsis semenarik mungkin agar editor tertarik membaca naskahmu selengkapnya. Dan buatlah editor suka dan penasaran dengan isi cerita naskahmu. Jangan menulis sinopsis terlalu banyak, singkat saja, maksimal 1 halaman. Jika sinopsis kamu menarik, lalu seandainya diterbitkan, pembaca pun akan tertarik untuk membeli bukumu. Yang pasti kalau orang pergi ke toko buku membeli buku, pasti orang akan membaca sinopsisnya dulu kan? And then, sebaiknya sinopsis ini kamu taruh di halaman depan (setelah lembar judul).

6. Sertakan biodatamu
Isi biodata yang jelas informasi penting yang harus ada, seperti; nama lengkap, alamat, alamat email, dan no telepon/ hp, agar penerbit bisa mudah menghubungimu. Untuk informasi tambahan, kamu bisa menambahkan nama pena (jika ada), tanggal lahir, hobi, pendidikan, foto, dan prestasi (bisa berupa pengalaman menang lomba menulis, buku yang sudah diterbitkan sebelumnya, karya yang pernah dimuat di media, dll). Sebagai point plus, kamu bisa sertakan misalnya sertifikat atau piagam menang lomba. Ah ya! Biodata ini bisa kamu taruh di bagian depan (setelah sinopsis) atau di halaman belakang.

7. Beri sampul (cover)
Berilah sampul yang menarik agar editor lebih berkesan dan melirik naskahmu. Tak perlu susah-susah, ambil saja gambar yang ada di internet. Biasanya cover saya tulis judul naskah saya, lalu di bawahnya saya beri gambar / ilustrasi yang saya ambil dari internet, dan di bawahnya lagi saya tulis nama lengkap saya.
Saya pernah bertanya pada seorang editor, ia bilang bahwa para editor menyeleksi puluhan naskah setiap harinya. Kira-kira naskah mana yang diambil duluan? Jawabannya, pastinya yang covernya menarik, rapi, dan nggak terlalu tebal.
Dan apakah penulis harus menyertakan atau membuat cover jika naskah diterbitkan nantinya? Jawabannya, tidak perlu. Karena sudah ada ilustrator yang akan mendesain cover bukumu. Tapi jika seandainya kamu ingin mendesainnya sendiri juga tidak apa-apa, biar lebih sesuai dengan model cover keinginan kamu.

8. Jilid naskahmu
Lebih baik begitu, biar tidak bececeran dan lebih rapi. Sehingga editor jadi segan untuk memandang naskahmu. Masukkan biodata dan sinopsis ke dalam jilidan, biar tidak hilang. 

9. Buat surat pengantar
Ini tidak wajib. Karena biasanya penerbit sudah tahu apa maksud dari pengiriman naskahmu. Surat pengantar ini ibarat kita mengenalkan diri sebagai penulis kepada penerbit.

10. Sertakan soft copy (CD)
Ini juga tidak wajib. Karena apabila penerbit memutuskan untuk menerbitkan naskahmu, mereka akan meminta kamu untuk mengirim soft copy-nya nanti, lewat e-mail atau lewat pos. Jadi simpan baik-baik file naskahmu. Jangan sampai hilang.

11. Memilih penerbit
Alamat penerbit sudah tercantum di bagian belakang buku (back cover) terbitan mereka. Tapi ada baiknya kamu mengecek buku terbitan terbaru mereka. Karena bisa saja alamat penerbit sudah berubah. Atau kamu bisa akses alamat penerbit lewat internet. Hindari mengirim naskah ke lebih dari satu penerbit. Karena apabila naskahmu diterima oleh dua penerbit itu, lalu tiba-tiba kamu memutuskan untuk membatalkannya, pikirlah… editor sudah capek-capek membaca naskahmu.

12. Kirim
Yang pertama, kamu bisa antar sendiri ke penerbitnya. Enaknya adalah naskahmu pasti sampai redaksi dengan aman dan bahkan kamu dapat tanda terima dari petugas. Yang kedua, kirim lewat pos! Jangan lewat e-mail! Kirim lewat email memang cepat. Tapi itu terlalu beresiko, apalagi kalau penerbitnya belum begitu terkenal. Ada resiko naskahmu gampang dibajak orang lain. Makanya penerbit-penerbit besar lebih menganjurkan untuk mengirim naskah dalam bentuk print out.
Akan lebih baik kalau kamu menyertakan perangko balasan Rp. 10.000,- atau lebih. Agar perangko itu bisa dimanfaatkan penerbit untuk mengirimkan surat balasan atau pengembalian naskahmu apabila naskahmu ditolak. Karena saya pernah dengar kalau naskah yang ditolak akan langsung masuk tempat pembuangan. Bisa saja hal itu akan dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab. Mereka bisa mencuri naskahmu, lalu mengganti namamu dengan namanya, dan menerbitkannya.

Tertarikkah kau? Kirim segera naskahmu ke penerbit. Jangan menunda-nunda waktu! Dan bermimpilah menjadi penulis terhebat sepanjang masa. Oke. ^_^ Sukses selalu…!!!
»»  read more
Niken Larasati
PENULIS dan sastrawan Sunda, Ajip Rosidi, seperti yang dikutip Heru Sutadi dalam artikelnya berjudul “Sejarah Kelahiran Buku dan Perkembangannya di Indonesia”, berpendapat bahwa penerbitan buku dibagi menjadi tiga jalur, yakni usaha penerbitan buku pelajaran, umum, dan agama. Di zaman Belanda, penerbitan buku pelajaran dikuasai oleh orang-orang Belanda. Sedangkan buku-buku agama, dimulai dengan penerbitan buku-buku agama Islam yang diusahakan oleh orang-orang Arab. Penerbitan buku umum yang berbahasa Melayu berada di tangan orang-orang Cina. Orang-orang pribumi sendiri bergerak diusaha penerbitan buku umum berbahasa daerah. Dari sini, perkembangan terjadi. Pemerintah Belanda yang waktu itu khawatir karena perkembangan ini akhirnya mendirikan penerbit Buku Bacaan Rakyat, yang di tahun 1908 menjadi Balai Pustaka. Pada 1950-an, penerbit swasta nasional mulai menjamur. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) mencatat, penerbit yang menjadi anggotanya yang semula hanya berjumlah 13 di tahun 1965, membengkak sampai menjadi 650-an lebih. Di Bandung sendiri berdiri puluhan penerbit swasta, baik yang sudah punya nama maupun yang masih berkembang.

Kini, penerbit bergerak sesuai segmentasinya masing-masing. Ada yang mengkhususkan diri dengan produksi buku-buku pelajaran, sejarah, sastra, filsafat, ilmu alam, agama, anak-anak, hingga buku terjemahan. Namun, tak jarang juga yang cuma mengekor penerbit-penerbit besar nasional.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, istilah penerbitan mengalami perluasan makna, dengan memasukan unsur-unsur buku elektronik, seperti e-book di dalam website atau blog pribadi. E-book bisa dibaca secara praktis di depan layar monitor komputer atau laptop. Sistem penerbitan kini mengalami perluasan, menjadi penerbitan swasta (major) yang konvensional dan penerbitan dengan sistem indie, di mana penulis bertindak pula sebagai penerbitan.

Menjadi “penerbit”

Penolakan naskah menjadi semacam “hantu” yang menakutkan bagi penulis, terutama penulis pemula.
Berkali-kali karya yang diajukan selalu mentok di meja redaksi. Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika para penulis menjajakan karyanya ke pintu-pintu penerbit. Ada pula yang mengeluhkan kurang transparannya penerbit, jika karya kita diterbitkan. Misalnya saja soal pembagian royalti. Bila buku kita sudah diterbitkan di pasaran dan terjual, penulis kerap dipusingkan dengan royalti yang tidak bisa dinikmati langsung. Ada yang mengemplang hasil royalti, ada pula yang memberikannya “setetes demi setetes”. Masalah ini juga pernah saya alami sendiri. Waktu pertama kali menulis novel, saya mencoba mengirimkan ke beberapa penerbit besar di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tapi, hasilnya nihil. Naskah novel pertama saya itu ditolak, dengan alasan klasik: tidak memenuhi selera pasar. Akhirnya, novel saya cuma bisa diterbitkan oleh sebuah penerbit kecil yang baru saja berdiri. Hasilnya, tentu saja mengecewakan. Selain tidak ada penyuntingan, desain cover, dan tata letaknya pun berantakan. Selain itu, dalam hal transparansi royalti dan “akal-akalan” surat kontrak saya pun pernah mengalaminya. Bayangkan betapa jengkelnya kita jika mengalaminya.

Hal ini disebabkan karena selama ini, para penulis sudah terbentuk suatu pemikiran bahwa untuk dapat melahirkan naskah menjadi buku perlu bantuan penerbit besar. Namun, saat ini, hal-hal menjengkelkan tadi secara perlahan mulai dapat teratasi oleh mereka yang membentuk sebuah penerbitan indie. Inti dari penerbitan indie atau self publishing adalah menerbitkan naskah sendiri, tidak bergantung pada penerbit besar yang telah mapan. Penerbit indie bisa dibilang sebuah alternatif untuk menerbitkan buku yang dilakukan oleh penulis independen.

Beberapa keuntungan dari penerbitan indie, yaitu kita tidak perlu mengikuti seleksi naskah yang biasanya ketat, berbelit, dan lama; penyuntingan, desain cover, sampai metode berpromosi ada di tangan penulis; kalau bukunya laris, keuntungan yang kita peroleh bisa lebih besar 50 sampai 100 persen. Namun, di samping keuntungan tadi, kita juga harus melihat beberapa kerugiannya, yaitu kita lebih kerepotan, karena selain menulis, kita pun harus mengurusi penerbitannya, dan mungkin pemasaran; jika buku kita tidak laku, maka kerugiannya ditanggung sendiri; tidak ada seleksi naskah berarti tidak ada ukuran soal kualitas naskah kita.

Penerbitan indie mulai terlihat peningkatan seiring dengan kemajuan teknologi penerbitan, misalnya fotokopi, print on demand (mencetak atau menerbitkan sesuai permintaan), website, dan blog pribadi. Meskipun memiliki persentase pasar yang kecil dalam hal pemasaran, dibandingkan dengan penerbit pada umumnya, tetapi ini menjadi sebuah bentuk baru dalam bidang penerbitan buku. Memilih menerbitkan buku sendiri bisa dikatakan kita menjadi “penerbit” pula.

Peluang Cerah

Sundea, seorang penulis indie dari Bandung, yang menerbitkan tulisan-tulisannya di blog pribadinya menjadi sebuah buku berjudul Salamatahari mengatakan bahwa untuk menerbitkan bukunya, ia sisihkan uang tabungannya. Kemudian, ia mencari bahan kertas yang murah, percetakan yang murah, dan barter promo. “Biasanya saya mengandalkan hubungan pertemanan untuk mengetahui informasi-informasi tadi,” katanya. Menurut Sundea, prosesnya pun tidak terlalu rumit. “Mudah, tinggal menulis. Kemudian mencari informasi seputar produksi dan distribusi. Detail naskahnya relatif, bergantung dengan kondisi saja,” ungkap Sundea yang pernah menerbitkan buku Dunia Adin di bawah sebuah anak perusahaan penerbit besar di Bandung. Strategi pemasarannya dilakukan Sundea dengan menjual dan berpromosi di internet dan titip jual di beberapa toko buku. “Lebih banyak online di toko buku online. Tapi ada juga yang ditaruh di toko-toko tertentu, misalnya Reading Lights. Terkadang juga kita jajakan sendiri, seperti sales,” terang Sundea.

Memang proses menerbitkan indie karya tulis kita cukup sederhana. Pertama, tentu saja yang harus dilakukan adalah menulis naskahnya. Kedua, proses menyunting (mengedit). Kalau masih ragu oleh kemampuan mengedit, kita tinggal membayar editor profesional atau meminta bantuan teman yang berkompeten. Ketiga, mengatur tata letak (layout). Keempat, mendesain sampul (cover). Proses layout dan desain cover juga bisa memanfaatkan editor profesional atau meminta bantuan teman. Kelima, mencetak naskah, lalu mencari nomor International Standart Book Number (ISBN). ISBN sendiri dapat diperoleh di Perpustakaan Nasional dengan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 25.000, atau Rp. 60.000 untuk barcode dan nomor ISBN. Proses terakhir adalah distribusi atau memasarkan. Untuk promosi bisa memanfaatkan situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, atau mendiskusikannya kecil-kecilan. Ada beberapa cara untuk menerbitkan naskah secara indie. Pertama, terbitkan sendiri sepenuhnya. Kedua, terbitkan bersama komunitas. Dan ketiga, terbitkan dengan kerja sama penerbit indie.

Bagaimana dengan peluang penerbitan indie ini? Sundea mengatakan, peluangnya terbilang baik. “Baik. Yang penting dia (penulis) percaya sama karyanya, sekalipun perjalanannya lambat,” ungkap Sundea. Kata Sundea, peluang penerbitan indie di Bandung juga cukup cerah. “Lumayan baik, soalnya orang Bandung passion dan semangat berkaryanya juga tinggi,” katanya.

Senada dengan Sundea, Irwan Bajang pendiri Indie Book Corner, mengatakan hal yang sama. “Kalau di Bandung ada beberapa teman yang sudah kami bantu, setidaknya ada lima penulis lebih. Peluang di Bandung justru sangat besar. Di sana banyak industri kreatif, desainer banyak. Nah, kalau ada jasa print in demand mungkin bisa lebih asyik. Selama ini desainer Indie Book Corner malah dari Bandung ada dua orang,” katanya. Irwan juga meyakini, suatu saat penerbitan indie akan mengalami perkembangan yang sangat pesat, dan mampu menggeser penerbitan-penerbitan konvensional. “Saya masih mencari cara, bagaimana buku itu bisa kita produksi semuran mungkin. Kalau mengungkap bagaimana menerbitkan buku dan ‘menidaksucikan’ penerbit besar, saya sudah memulai dan sudah terlihat agak berhasil. Karena kapital belum kuat, solusi ini yang saya belum temukan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Irwan berencana menyisihkan beberapa persen dari hasil penjualan buku-buku indie, di mana nanti penulis bisa meminjam dan mengembalikan uangnya untuk mencetak bukunya sendiri. “Kalau misalnya begitu, sepertinya tidak akan ada kesusahan diakses kapital penulis dalam mempublikasikan karyanya,” ujar Irwan yang juga sudah menghasilkan beberapa karya berupa kumpulan puisi dan novel ini.

Irwan sedikit membuka strateginya dalam hal kapital tadi. Ia mengungkapkan, dana itu merupakan dana bersama. Misalnya, anggap saja tiga juta. Lalu, uang itu bisa dimanfaatkan oleh tiga penulis, masing-masing satu juta untuk menerbitkan bukunya. Jika bukunya sudah jadi, mereka harus mengembalikan satu juta itu untuk memberikan kesempatan penulis keempat, kelima, dan seterusnya mendapat giliran meminjam. “Yang sudah meminjam bisa saja melebihkan, mungkin sepuluh atau dua puluh ribu, supaya bisa berkembang dan saling support,” terangnya.

Contoh sukses penulis yang menerbitkan karya-karyanya secara indie adalah Dewi Lestari yang punya nama pena Dee. Buku-bukunya pun laris-manis di pasaran. Namun, yang perlu menjadi catatan kita adalah, menerbitkan buku indie bukan berarti cara instan untuk menjadi seorang penulis terkenal dan menjamin karya kita laku di pasaran. Penerbitan indie boleh jadi merupakan sebuah alternatif lain bagi penulis yang sudah terlanjur kecewa terhadap penerbit-penerbit besar. Selanjutnya, biar waktu yang akan menjawab, apakah penerbit-penerbit besar akan tergusur oleh geliat penerbit indie, atau penerbit indie yang mati di tengah jalan. ***

Penulis adalah esais, cerpenis, novelis, penulis, dan editor buku. Esai dan cerpennya dimuat di berbagai media cetak dan online. Bukunya yang sudah terbit: Sandiwara dan Perang; Politisasi Terhadap Aktifitas Sandiwara Modern Masa Jepang (Ombak, 2009), Ingatan Dodol (IMU, 2010), Imajinasi Bumi (Hasfa Arias, 2011), dan Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (INSISTPress, 2011).
Tinggal di Bandung.



Pesan: Sebuah penerbit dalam menerbitkan buku memang perlu pertimbangan, tapi belum tentu keputusan penerbit adalah tepat. Terkadang, buku yang lolos terbit, ternyata gagal di pasaran. Sebaliknya, buku yang ditolak justru saat diterbitkan oleh penerbit lain malah laris manis di pasaran. Jadi, jangan pesimis dalam menerbitkan buku. Semua itu butuh proses. Jika naskahmu ditolak, jangan patah semangat dalam menulis kembali, melainkan bersyukurlah! Karena dengan sebuah penolakan, kamu bisa tahu kekurangan dari naskahmu. Dan lakukan revisi kembali pada naskahmu! Percayalah, kelak kamu bisa menjadi penulis besar. Genggamlah impianmu selalu. Yakin dan semangat… ^_^
»»  read more
Niken Larasati
Sebenarnya tidak ada batasan yang kaku antara keduanya mulai dari alur, plot dan konflik sampai ending. Tapi hal yang bisa membedakan jenis kelamin keduanya ada pada beberapa keunikan berikut ini:

Cerpen Sastra:
1) Menggunakan bahasa baku.
2) Gaya bertutur yang enak, lincah walau kadang-kadang penuh kejutan.
3) Kata-kata yang bertenaga, sederhana tapi menusuk dalam, cerpen sastra tidak selamanya berat-berat kecuali yang aliran surealisme/abstrak.
4) Tema yang diangkat biasanya masalah humanisme yang beragam dan sering memasukan kritik sosial. Bisa tentang lokalitas atau isu masyarakat urban.
5) Bisa diterima oleh semua kalangan.

6) Tokoh cerita tidak dibatasi, bisa anak-anak, remaja, wanita, laki-laki dewasa, nenek-nenek atau kakek-kakek pun bisa masuk cerita.

Cerpen Remaja:
1) Menggunakan bahasa yang encer bahkan cenderung forkem (bahasa gaul).
2) Gaya bercerita yang ringan dengan alur dan plot mudah ditebak.
3) Kurang memperhatikan kaidah bahasa baku sesuai EYD.
4) Segmentasi khusus pembaca remaja, sehingga tema yang diangkat selalu tentang dinamika dan permasalahan remaja.
5) Belum tentu cocok dibaca semua kalangan.
6) Tokoh utama adalah remaja.

http://turisqoh-futicha.blogspot.com/2011/07/perbedaaneda-cerpen-sastra-dengan.html
»»  read more
Niken Larasati
Berikut adalah kisaran honor naskah cerpen dari para penulis yang karyanya pernah dimuat di media :

KORAN :

1. Kompas, Rp 1.000.000,- s.d. Rp 1.500.000,-
2.
Jawa Pos, Rp 900.000,- s.d. Rp 1.200.000,-
3.
Koran Tempo, tergantung panjang pendek cerita, biasanya Rp 700.000,- s.d. Rp 1.000.000,-
4. Suara Pembaruan & Sindo, Rp 376.000,- s.d. Rp 400.000,-
5. Republika & Jurnal Nasional, Rp 375.000,- s.d. Rp 400.000,-
6. Suara Merdeka, Rp 400.000,-
7. Seputar Indonesia, Rp 400.000,-
8. Suara Karya, Rp 150.000,-
9. Lampung Post, Rp 200.000,-
10. Riau Pos, Rp 100.000,- s.d. Rp 250.000,-
11. Surabaya Post, Rp 150.000,-
12. Padang Ekspres, Rp 100.000,-
13. Jurnal Bogor, kirim ke donyph@jurnas.com, Rp 150.000,-
14. Berita Pagi, kirim ke huberitapagi@yahoo.com, Rp 100.000,-
15. Pikiran Rakyat, Rp 300.000,-
16. Kedaulatan Rakyat, Rp 250.000,- s.d Rp 400.000,-
17. Haluan Padang, Rp 200.000,-

MAJALAH & TABLOID :

1. Jurnal Cerpen Indonesia, jurnalcerita@yahoo.com, Rp 250.000,-
2. Majalah Horison, Rp 300.000,-
3. Majalah Story, Rp 250.000,-
4. Majalah Sabili, Rp 200.000,-
5. Majalah Ummi, Rp 300.000,-
6. Majalah Kawanku, Rp 100.000,-
6. Annida Online, kirim via website langsung, Rp 50.000- Rp 150.000,-
7. Tabloid Nova, Rp 400.000,-

Berikut adalah kisaran honor naskah puisi dari para penulis yang karyanya pernah dimuat di media :

KORAN :

1. Seputar Indonesia, Rp 200.000,-
2. Pikiran Rakyat, Rp 200.000,- s.d Rp 300.000,- (tergantung banyak cerpen yang dimuat)
3. Suara Pembaruan, Rp 300.000,-
4. Suara Merdeka, Rp 300.000,-
5. Suara Karya, Rp 150.000,-
6. Kedaulatan Rakyat, Rp 100.000,-
»»  read more

Followers